Jumat, 29 Oktober 2010

Hubungan Pendidikan Islam dengan Ilmu Pengetahuan & Teknologi ( IPTEK )


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dunia dewasa ini mengalami kemajuan yang tak terbendung di seluruh sektor kehidupan. Tak terkecuali bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang biasa kita kenal dengan istilah “iptek”. Di kalangan generasi muda, ada semacam perkataan bagi mereka yang menguasai dan tidak menguasai iptek. Mereka yang kurang menguasai teknologi dengan baik harus berbesar hati mendapat julukan “gaptek” dan “jadul”. Julukan ini sebetulnya menjadi biasa tatkala kita tidak menanggapinya dengan serius, tetapi akan menjadi motivasi besar jika kita renungkan lebih dalam karena penguasaan teknologi di zaman yang sudah serba canggih ini sangat dibutuhkan. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi ( iptek ) di satu sisi memang berdampak positif, yakni dapat memperbaiki kualitas hidup manusia. Berbagai sarana modern industri, komunikasi, dan transportasi, terbukti amat bermanfaat. Misalnya, dulu orang naik haji dengan kapal laut bisa memakan waktu 17 - 20 hari untuk sampai ke Jeddah, sekarang dengan naik pesawat terbang, kita hanya perlu 12 jam saja, Subhanallah. Tapi di sisi lain, tak jarang iptek berdampak negatif karena merugikan dan membahayakan kehidupan dan martabat manusia. Bom atom telah menewaskan ratusan ribu manusia di Hiroshima dan Nagasaki pada tahun 1945. Di sinilah, hubungan pendidikan islam sebagai pedoman hidup menjadi sangat penting untuk ditengok kembali, agar hal yang demikian tidak terjadi lagi di masa mendatang.
Berdasarkan hal diatas penting untuk kita mengetahui hubungan pendidikan Islam dengan Ilmu Pendidikan dan Tekhnologi ( iptek ) oleh karena itu kami tertarik untuk membuat makalah ini yang diberi judul “Hubungan Pendidikan Islam dengan Ilmu Pengetahuan & Teknologi ( IPTEK )”.
B. Penegasan Judul
Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis memilih judul “Hubungan Pendidikan Islam dengan Ilmu Pengetahuan & Teknologi ( IPTEK )”.
C. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan dari makalah yang kami susun ini adalah sebagai berikut:
• Untuk mengetahui dan memahami definisi pendidikan Islam.
• Untuk mengetahui dan memahami definisi iptek.
• Untuk mengetahui tujuan pendidikan Islam.
• Untuk memahami hubungan pendidikan Islam dengan iptek.
• Untuk mengetahui peran pendidikan Islam dalam perkembangan teknologi.
• Untuk mengetahui pandangan Islam terhadap iptek.
• Untuk mengetahui dampak negatif iptek.
• Untuk mengetahui upaya pendidikan Islam dalam menghadapi dampak negatif dari iptek.
D. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang kami temukan berdasarkan judul makalah ini adalah:
1. Apakah definisi pendidikan Islam ?
2. Apakah definisi iptek ?
3. Apa tujuan pendidikan Islam ?
4. Apa hubungan pendidikan Islam dengan iptek ?
5. Apa saja peran pendidikan Islam dalam perkembangan teknologi ?
6. Apa saja dampak negatif iptek ?
7. Bagaimana upaya pendidikan Islam dalam menghadapi dampak negatif dari iptek ?
E. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan yang kami gunakan dalam penyusunan makalah ini adalah dengan membagi materi menjadi tiga bab, terdiri dari pendahuluan, pembahasan, dan penutup. Adapun sumber informasi yang kami peroleh mengenai materi makalah ini melalui kajian pustaka dari buku-buku dan situs web internet yang berkompeten dengan judul sebagai bahan utama pembuatan makalah.





BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Pendidikan Islam
Menurut Drs. Ahmad D. Marimba, yaitu bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum – hukum agama Islam menuju terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran – ukuran Islam. Sedang menurut Athiyah Al-Abrasy, pendidikan Islam adalah mempersiapkan manusia supaya hidup dengan sempurna dan bahagia, mencintai tanah air, tegap jasmaninya, sempurna budi pekertinya, pola pikirnya teratur dengan rapi, perasaannya halus, profesiaonal dalam bekerja dan manis tutur sapanya. Sedangkan menurut Syed Muhammad Naquib Al-Attas, pendidikan adalah suatu proses penamaan sesuatu ke dalam diri manusia mengacu kepada metode dan sistem penamaan secara bertahap, dan kepada manusia penerima proses dan kandungan pendidikan tersebut.
Jadi definisi Pendidikan Islam adalah, pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan ke dalam diri manusia, tentang tempat – tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan, sehingga membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan tempat Tuhan yang tepat di dalam tatanan wujud dan kepribadian.
B. Definisi Iptek
Iptek merupakan singkatan dari dua materi yaitu ilmu pengetahuan dan teknologi. Keduanya menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan karena saling mendukung satu sama lain. Teknologi merupakan bagian dari ilmu pengetahuan yang berkembang secara mandiri, menciptakan dunia tersendiri. Akan tetapi teknologi tidak mungkin berkembang tanpa didasari ilmu pengetahuan yang kokoh. Maka ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi satu kesatuan tak terpisahkan.
Menurut Iskandar Alisyahbana (1980), teknologi telah dikenal manusia sejak jutaan tahun yang lalu karena dorongan untuk hidup yang lebih nyaman, lebih makmur dan lebih sejahtera. Jadi sejak awal peradaban sebenarnya telah ada teknologi, meskipun istilah “teknologi” belum digunakan. Istilah “teknologi” berasal dari “techne“ atau cara dan “logos” atau pengetahuan. Jadi secara harfiah teknologi dapat diartikan pengetahuan tentang cara. Pengertian teknologi sendiri adalah cara melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan manusia dengan bantuan akal dan alat, sehingga seakan-akan memperpanjang, memperkuat atau membuat lebih ampuh anggota tubuh, panca indera dan otak manusia. Sedangkan menurut Jaques Ellul (2008) memberi arti teknologi sebagai keseluruhan metode yang secara rasional mengarah dan memiliki ciri efisiensi dalam setiap bidang kegiatan manusia.
C. Tujuan Pendidikan Islam
Pendidikan Islam memiliki dua dimensi tujuan, yaitu tujuan vertikal dan tujuan horizontal. Tujuan pendidikan Islam secara vertikal adalah untuk mendekatkan diri dan menggapai ridho Allah SWT. Pendekatan tujuan vertikal ini diarahkan pada penyadaran diri manusia sebagai hamba Allah SWT yang diciptakan untuk beribadah hanya kepada-Nya. Firman Allah SWT dalam Al-Quran surat Adz-Dzariyat ayat 56:
      


Artinya :
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (Q. S. Adz-Dzariyat: 56)
Adapun penyadaran diri manusia sebagai khalifah di bumi merupakan tujuan pendidikan Islam yang berdimensi horizontal secara global. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 30:
                     •         
Artinya :
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (Q. S. Al-Baqarah:30)
D. Hubungan Pendidikan Islam Dengan Iptek
Islam memandang bahwa agama adalah dasar dan pengatur kehidupan. Aqidah Islam menjadi basis dari segala ilmu pengetahuan. Aqidah Islam yang terwujud dalam apa-apa yang ada dalam Al-Qur`an dan Al-Hadits menjadi qaidah fikriyah (landasan pemikiran), yaitu suatu asas yang di atasnya dibangun seluruh bangunan pemikiran dan ilmu pengetahuan manusia.
Islam memerintahkan manusia untuk membangun segala pemikirannya berdasarkan Aqidah Islam, bukan lepas dari aqidah itu. Ini bisa kita pahami dari ayat yang pertama kali turun :
     
Artinya :
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan”.( QS. Al –
Alaq : 1 )
Ayat ini berarti manusia telah diperintahkan untuk membaca guna memperoleh berbagai pemikiran dan pemahaman. Tetapi segala pemikirannya itu tidak boleh lepas dari Aqidah Islam, karena iqra` haruslah dengan bismi rabbika, yaitu tetap berdasarkan iman kepada Allah, yang merupakan asas Aqidah Islam.
Pandangan Islam ini menyatakan bahwa, kata putus dalam ilmu pengetahuan bukan berada pada pengetahuan atau filsafat manusia yang sempit, melainkan berada pada ilmu Allah yang mencakup dan meliputi segala sesuatu. Firman Allah SWT :
             
Artinya :
“Dan adalah (pengetahuan) Allah Maha Meliputi segala sesuatu”.( QS An – Nisaa : 126 )
Itulah ajaran yang dibawa Rasulullah SAW (w. 632 M) yang meletakkan Aqidah Islam yang berasas Laa ilaaha illallah Muhammad Rasulullah sebagai asas ilmu pengetahuan. Beliau mengajak memeluk Aqidah Islam lebih dulu, lalu setelah itu menjadikan aqidah tersebut sebagai pondasi dan standar bagi berbagai pengetahun. Ini dapat ditunjukkan misalnya dari suatu peristiwa ketika di masa Rasulullah SAW terjadi gerhana matahari, yang bertepatan dengan wafatnya putra beliau (Ibrahim). Orang-orang berkata.Gerhana matahari ini terjadi karena meninggalnya Ibrahim. Maka Rasulullah SAW segera menjelaskan : Sesungguhnya gerhana matahari dan bulan tidak terjadi karena kematian atau kelahiran seseorang, akan tetapi keduanya termasuk tanda-tanda kekuasaan Allah. Dengannya Allah memperingatkan hamba-hamba-Nya(HR. Al-Bukhari dan An-Nasa`i)
Dengan jelas kita tahu bahwa Rasulullah SAW telah meletakkan Aqidah Islam sebagai dasar ilmu pengetahuan, sebab beliau menjelaskan, bahwa fenomena alam adalah tanda keberadaan dan kekuasaan Allah, tidak ada hubungannya dengan nasib seseorang, hal ini sesuai dengan aqidah muslim yang sebenarnya.
Inilah paradigma Islam yang menjadikan Aqidah Islam sebagai dasar segala pengetahuan seorang muslim. Paradigma inilah yang telah mencetak muslim-muslim yang taat dan shaleh tapi sekaligus cerdas dalam iptek. Itulah hasil dan prestasi cemerlang dari paradigma Islam ini yang dapat dilihat pada masa kejayaan iptek Dunia Islam antara tahun 700 - 1400 M. Pada masa inilah dikenal nama Jabir bin Hayyan (w. 721) sebagai ahli kimia terma syhur, Al-Khawarzmi (w. 780) sebagai ahli matematika dan astronomi, Al-Battani (w. 858) sebagai ahli astronomi dan matematika, Al-Razi (w. 884) sebagai pakar kedokteran, ophtalmologi, dan kimia, Tsabit bin Qurrah (w. 908) sebagai ahli kedokteran dan teknik, dan masih banyak lagi yang lainnya.
E. Peran Pendidikan Islam Dalam Perkembangan Teknologi
Peran pendidikan islam dalam perkembangan teknologi, diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Aqidah Islam Sebagai Dasar Iptek
Inilah peran pertama pendidikan islam yang dimainkan dalam iptek, yaitu menjadikan aqidah Islam sebagai basis segala konsep dan aplikasi iptek. Inilah paradigma Islam sebagaimana yang telah dibawa oleh Rasulullah SAW.
2. Syariah Islam sebagai Standar Pemanfaatan Iptek
Peran kedua Islam dalam perkembangan iptek, adalah bahwa Syariah Islam harus dijadikan standar pemanfaatan iptek. Ketentuan halal-haram (hukum-hukum syariah Islam) wajib dijadikan tolok ukur dalam pemanfaatan iptek, bagaimana pun juga bentuknya. Iptek yang boleh dimanfaatkan, adalah yang telah dihalalkan oleh syariah Islam. Sedangkan iptek yang tidak boleh dimanfaatkan, adalah yang telah diharamkan syariah Islam. Jika dua peran ini dapat dimainkan oleh umat Islam dengan baik, insyaallah akan ada berbagai berkah dari Allah kepada umat Islam dan juga seluruh umat manusia.
F. Dampak Negatif Iptek
Kemajuan iptek yang telah memberikan begitu banyak kemudahan dan kenyamanan bagi kehidupan umat manusia, bagi masyarakat sekarang sudah merupakan suatu kesakralan. Pengembangan iptek dianggap sebagai solusi dari permasalahan yang ada. Sementara orang bahkan memuja iptek sebagai penyelamat yang akan membebaskan mereka dari berbagai kesulitan. Iptek diyakini akan memberi umat manusia kebahagiaan. Sumbangan iptek terhadap peradaban dan kesejahteraan manusia tidaklah dapat dipungkiri. Namun manusia tidak bisa pula menipu diri akan kenyataan bahwa iptek mendatangkan malapetaka dan kesengsaraan bagi manusia. Dalam peradaban modern, terlalu sering manusia terhenyak oleh dampak negatif iptek yang muncul. Kalaupun iptek mampu mengungkap semua tabir rahasia alam dan kehidupan, tidak berarti iptek sama dengan kebenaran. Sebab iptek hanya mampu menampilkan kenyataan. Kebenaran yang manusiawi haruslah lebih dari sekedar kenyataan obyektif. Kebenaran harus mencakup pula unsur keadilan. Tentu saja iptek tidak mengenal moral kemanusiaan, oleh karena itu iptek tidak pernah bisa mejadi standar kebenaran ataupun solusi dari masalah-masalah kemanusiaan.
Manusia telah meninggalkan essensi dari iptek itu sendiri bahwasanya iptek merupakan pengembangan dari keimanan, yaitu ketaatan kita kepada Sang Khalik yang memerintahkn manusia untuk mencari ilmu. Seharusnya iptek yang dikembangkan manusia itu mampu meningkatkan keimanan kepada Allah SWT dengan memanfaatkannya sebaik mungkin. Manusia harus mengendalikan dan mengarahkan perkembangan iptek kepada jalur yang digariskan Allah SWT. Akan tetapi realita yang ada ternyata perkembangan iptek membuat manusia lepas dari jalan-Nya, bahkan dikendalikan oleh penemuan manusia itu sendiri. Kelemahan inilah yang akhirnya menyebabkan iptek menjadi bumerang bagi kita. Berbagai dampak negatif pun hadir seiring dengan pesatnya perkembangan iptek, diantara dampak negatif yang muncul, yaitu:
a. Meningkatnya aksi terorisme yang memanfaatkan kemudahan akses komunikasi dan perakitan senjata atau bom.
b. Penggunaan informasi dan situs tertentu, seperti kasus penyebaran pornografi yang semakin marak saat ini.
c. Terjadinya pengangguran bagi tenaga kerja yang tidak mempunyai kualifikasi yang sesuai dengan yang dibutuhkan.
d. Sifat konsumtif sebagai akibat kompetisi yang ketat pada era globalisasi akan juga melahirkan generasi yang secara moral mengalami kemerosotan: konsumtif, boros dan memiliki jalan pintas yang bermental "instant".
e. Penyalahgunaan pengetahuan.
G. Upaya Pendidikan Islam dalam Menghadapi Dampak Negatif Iptek
Materi pendidikan Islam harus mampu menstimulir fitrah manusia, baik fitrah ruhani, akal, maupun perasaan sehingga dapat melaksanakan perannya dengan baik, entah sebagai hamba Allah SWT.. ataupun sebagai khalifah dimuka bumi.
Menurut Prof. A. Qodry Azizy (2004: 81), tiga komponen yang dimiliki pendidikan Islam sebagai kunci dalam mengendalikan dan mengembalikan iptek ke posisi semula, yaitu:
1. Amar ma’ruf
Pendidikan Islam memperkenalkan konsep pengembangan amar ma’ruf. Tidak hanya kaitannya dalam pergaulan sosial saja, akan tetapi amar ma’ruf ini dimaknai juga sebagai pengembangan diri dan iptek secara positif. Jadi apapun yang dihasilkan oleh umat Islam harus mampu memberikan nilai positif bagi kehidupannya dan habitat di sekelilingnya. Begitu pun dalam pengembangan iptek, umat Islam harus mengarahkan penggunaan iptek kepada hal yang benar, yang diridhoi oleh Allah SWT.
2. Nahi Munkar
Pendidikan Islam mengarahkan manusia untuk mampu membedakan dan memilih kebenaran. Andaikan ada penyalahgunaan iptek, maka pendidikan Islam mengharuskan umat Islam untuk menghindarinya dan memperbaiki serta mencegah penyalahgunaannya kembali.
3. Iman kepada Allah
Poin ketiga ini menjadi poin utama dasar pendidikan Islam. Karena dengan keimanan yang kuat, umat Islam akan mampu menghadapi dampak negatif iptek yang hadir. Iaman kepada Allah SWT akan menghadirkan rasa takut untuk bermaksiat terhadap-Nya, dan rasa malu untuk melakukan kerusakan di bumi. Sebesar apapun serangan dampak negatif iptek, umat Islam akan mampu membentengi diri melalui peningkatan keimanan yang terus menerus. Karena pada dasarnya dampak negatif iptek tidak akan terbendung, hanya diri kitalah yang harus membentengi diri sebaik mungkin untuk menghadapinya.












BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan.
Dalam mengikuti lajunya arus perkembangan teknologi yang semakin maju, maka segala kemungkinan pun bisa terjadi. Terkadang teknologi bisa membawa kemanfaatan yang berguna, namun terkadang teknologi bisa menjadi musuh yang sangat berbahaya bagi kehidupan manusia, baik kehidupan dunia maupun akhirat, namun kemungkinan – kemungkinan itu tergantung dari si pengguna teknologi.
Menghadapi permasalahan seperti ini, maka cara terbaik adalah mengikuti aturan – aturan yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya. Agama Islam sendiri tidak membatasi seseorang untuk mencari dan menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi, namun pendidikan Islam memberikan rambu – rambu yang harus dipatuhi demi kelancaran dan keselamatan umat manusia dalam mencari dan menggunakan iptek.
B. Saran – saran.
1. Sebaiknya kita sebagai umat Islam khususnya mampu memilih dan menangkal ilmu pengetahuan dan teknologi ( iptek ) yang berdampak negatif maupun positif.
2. Mampu mempergunakan dan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) sesuai dengan perkembangan zaman dan kebutuhan umat manusia dengan tidak menyalahgunakannya untuk hal – hal yang negatif.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar